MITOS-MITOS MEMULAI BISNIS

1. Bisnis itu sangat beresiko

Ini mitos pertama yang salah. Karena sesungguhnya semua jenis pekerjaan itu memiliki resikonya masing-masing. Pandemi covid-19 yang dibarengi resesi ekonomi ini memberi pelajaran yang sangat baik bagi kita. Betapa tidak, musim pandemi covid-19 dan krisis ekonomi ini banyak perusahaan terancam bangkrut, sehingga menjadi karyawan itu juga beresiko sangat tinggi untuk dirumahkan bahkan diberhentikan atau di-PHK.   Akibat PHK ini, banyak mantan karyawan dari perusahaan yang mapan terpaksa berubah karena harus banting setir, mereka ada yang berubah menjadi tukang ojek, jualan telor, jualan sembako, jualan krupuk, jualan kacang dan lain-lain.

Naaahhh… bagi para pebisnis justru resiko ini sudah dianalisis dari sejak awal saat membuat desain rencana kerja, sehingga mereka lebih siap dengan membuat berbagai alternatif prediksi PLAN A, PLAN B, dan seterusnya. Sementara para karyawan biasanya tidak melakukan analisis resiko sehingga tidak membuat prediksi atau proyeksi PLAN A, PLAN B, dst. Akhirnya begitu terjadi PHK baru berfikir bagaimana dan bagaimana.

Jadi beresiko atau tidak suatu profesi tergantung bagaimana mainset kita dan bagaimana menjalaninya. Pada prinsipnya profesi apapun mempunyai resikonya masing-masing. Bisnis akan beresiko tinggi jika kita tidak belajar ilmu tentang bisnis. Jika kita meningkatkan skill berbisnis dan  skill manajemen resiko, insya Allah resiko berbisnis pun dapat diantisipasi bahkan dapat diturunkan. Dan dengan bertambahnya jam terbang maka kita akan makin ahli mengelola resiko.

2. Sebelum memulai bisnis harus punya Business Plan yang bagus.

Ini mitos kedua yang salah. Karena tantangan pertama dalam berbisnis itu bagaimana memulai action atau just do it untuk melawan rasa ketakutan atau malu menjadi pebisnis. Bisnis itu bukan masalah apa yang akan dikerjakan, tetapi masalah bagaimana mengerjakannya. Bisnis berskala kecil jika dikelola secara benar dan cerdas sambil bertawakal kepada Allah, insya Allah bisnis itu akan tumbuh dan berkembang menjadi besar melampaui ekspektasi pebisnisnya. Jadi tidak perlu membuat business plan? Business plan itu sangat perlu. Why ? Pebisnis yang tidak membuat business plan itu sama dengan merencakan kegagalan. 

Membuat Business Plan hanya merupakan langkah awal memahami struktur utama dari bisnis. Berikutnya yang terpenting adalah bagaimana action-nya. Business Plan yang sempurna dan disiplin eksekusi atau action merupakan bagian yang penting dari iktiar kita. Ikhtiar tersebut harus disempurnakan dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui taqarub dan bermujahadah kepada Allah. Insya Allah ikhtiar yang demikian akan memperbesar peluang untuk sukses dalam berbisnis.

3. Kita harus punya modal besar untuk memulai bisnis.

Yeeeessss perlu dipahami bahwa modal berbisnis tidak harus uang. Modal utama dalam berbisnis setelah mindset itu adalah kemampuan membaca kebutuhan pasar yang kemudian memunculkan ide bisnis sebagai solusi jawaban permasalahan pasar atau masyarakat. Bisnis dengan modal yang besar namun tidak menjadi kebutuhan atau menjawab masalah pasar atau masyarakat, maka bisnis itu tidak akan tumbuh dan berkembang. Lalu bagaimana jika kita sudah mempunyai ide bisnis yang menjawab masalah dan kebutuhan pasar atau masyarakat tetapi tidak mempunyai modal uang ? Alternatif jawabannya kita dapat berkolaborasi dengan investor (pemilik modal) dengan model atau konsep bisnis sistem bagi hasil, menjadi reseller dahulu, preorder (menawarkan produk yang dipesan dengan uang muka dulu, kemudian dari uang muka itu dapat digunakan untuk biaya produksi ) atau dengan mencari dana hibah. Naaaaahhhh terjawab sudah bahwah memulai bisnis tidak harus mempunyai modal uang yang cukup dahulu baru dapat berbisnis. Kita harus mempunyai modal besar untuk memulai bisnis itu adalah mitos.

4. Memulai bisnis harus pintar dan punya banyak pengalaman

Seperti dalam beragama, siapa teman dekat kita akan mempengaruhi kualitas kita dalam beragama. Begitu juga dalam berbisnis realitanya betapa banyak sarjana ekonomi dan bisnis ternyata tidak berani berbisnis. Mereka sudah mempunyai ilmunya, sudah pernah praktek kerja lapangan bahkan sudah pernah magang. Naaaaahhhh, pada era informasi dan keterbukaan ini, pinter dan pengalaman saja ternyata tidak cukup. Dengan siapa kita berteman, bagaimana kita mengembangkan networking dan milikilah mentor. Bertemanlah dengan orang-orang sukses dan belajarlah kepada mereka yang telah sukses, lakukan Adaptasi, Tiru dan Mengembangkannya sampai berhasil. 

Kabar baiknya adalah pada era industri 4.0 ini kita mudah untuk membangun networking tanpa batasan lokasi dan waktu. Manfaatkanlah media sosial yang ada sekarang dengan maksimal dan optimal bergabung dengan asosiasi bisnis, komunitas bisnis, ikuti webinar bisnis, group bisnis, dan lain-lain.

5. Menjadi pebisnis sukses itu karena faktor keturunan.

Pebisnis sukses tidak ditentukan oleh faktor keturunan atau hereditas. Karena semua anak terlahir dalam kondisi fitrah maka treatment pendidikan apa yang diberikan oleh lingkungannya itu akan membentuk pengetahuan, perilaku akhlaq dan skillnya, begitu Rasulullah mengajarkan kepada kita. Mengawali hidup dengan kalimat tauhid, mengajarkan shalat sejak usia 7 tahun adalah bukti pelajaran spiritual bahwa kebaikan, keshalihan, dan kesuksesan itu dapat dilatih melalui proses pembiasaan. Stephen R. Covey (1997) juga mengajarkan bahwa kesuksesan itu dapat diraih melalui proses pengembangan kebiasaan yang efektif. Sean Covey (2001) menyampaikan betapa bahwa kebiasaan seseorang  itu dapat membuatnya menjadi sukses atau gagal. Malcolm Gladwell (2009) juga menjelaskan bahwa kesuksesan atau keahlian itu dapat dilatih secara terstruktur, tersistem, dan terukur sampai 10.000 jam.

Naaaahhhh, jika anda lahir dalam keluarga pebisnis bersykurlah anda dapat belajar dari di lingkungan keluarga anda yang pebisnis. Teruslah mengembangkan mindset bisnis anda, kembangkan value bisnis anda, kembangkan attitude bisnis anda, kembangkan behavior bisnis anda, dan kembangkan habits bisnis anda. Habits inilah yang akan menjadi ujung tombak sukses bisnis anda. Bukan keturunan.

6. Pengusaha itu hanya termotivasi oleh uang dan pelit

Sebagai orang beriman kita memiliki mindset untuk berjuang menegakkan agama ini dengan harta dan jiwa. Mindset itu terinternalisasi menjadi nilai diri untuk ikut berkontribusi memberikan donasi mengembangkan motivasi meningkatkan kualitas diri sebagai manusia ROBBANI.

Dewi Kreckman (2020) dalam https://www.facebook.com/dewikreckman.usa menyampaikan bahwa survei di small business Amerika menujukkan: (1) 37% ingin mewujudkan cita cita melalui bisnis (misal bisa pensiun muda, menyenangkan ortu, dll), (2) 28% ingin stabilitas keuangan, (3) 12% ingin menyumbangkan sebagian keuntungan ke masyarakat dan membuat perubahan kebaikan di dunia, (4) 10% ingin melayani pelanggan dengan baik. 

Lebih lanjut Dewi Kreckman (2020) menyampaikan bahwa jika ada yang mengira pengusaha kaya karena pelit harus membaca ulang data donasi para pengusaha kaya Amerika di tahun 2018 (hanya dalam waktu setahun): (1) Jeff Bezos dan istri donasi $ 2 billion, (2) Michael Bloomberg donasi $ 767 million, (3) Pierre Omidyar donasi $ 392 million, (4) Paul Allen donasi $ 260 million, (5) Mark Zuckerberg donasi $ 213 million.

Yang penting bukan kaya atau miskin tapi bagaimana kita menggunakan kekayaan kita. Bayangkan jika lebih banyak pengusaha kaya berdonasi jutaan dolar di Indonesia berapa banyak anak yatim, janda tua, hewan liar, dll yang bisa tersantuni?

Kaya bukan berarti cinta dunia dan tidak sedekah, miskin bukan berarti zuhud dan banyak sedekah. Betul apa betul bingits?

7. Menjadi pengusaha butuh ide baru yang brilliant

Menurut Dewi Kreckman (2020) mitos itu salah. Banyak orang takut memulai usaha karena berpikir bahwa idenya tidak istimewa. Padahal banyak pebisnis sukses dari meniru ide orang lain yang kemudian DIPERBAIKI secara berkesinambungan. Jadi BUKAN tiru plek yahhhhhhh!!!!

Contoh nyata adalah Facebook meniru Friendster tapi bisa jauh lebih sukses. Southwest Airlines bukan penerbangan pertama di dunia tapi salah satu paling sukses dan tertinggi profitnya di dunia bahkan mengalahkan Singapore Airlines.

8. Pengusaha butuh sekolah bisnis

Tidak semua pebisnis tuntas pendidikan formalnya. Karena memang pebisnis tidak membutuhkan gelar tapi membutuhkan ilmu. Jika anda tidak sempat sekolah bisnis maka perdalam ilmu bisnis dengan cara lainnya. Seperti halnya masuk Pesantren Wira Usaha Nurul Islam ini, anda akan diajak belajar berbisnis secara praktis dengan dibina oleh mentor bisnis. Jadi anda langsung diajak pratik, LEARNING BY DOING. Disamping itu anda juga dapat belajar dari : membaca buku, mengikuti seminar, pelatihan atau woekshop bisnis, cari mentor, dll.

Dewi Kreckman (2020) juga menyampaikan bahwa banyak juga pebisnis yang memiliki latar belakang berbeda antara pendidikan formal yang ditekuni dengan bisnisnya. Misal Bill Gates drop out dari Harvard tapi dia selalu konsisten membaca buku minimal 1 buah/Minggu. Malah temannya kuliah dulu yaitu Steve Ballmer yang lanjut kuliah di Harvard dan lulus Summa cumlaude menjadi karyawannya dengan posisi CEO.

Gelar/ijasah/sekolah formal tidak penting tapi terus belajar adalah WAJIB hukumnya begitu kata Dewi Kreckman.

9. Memulai bisnis sebaiknya usia muda

Mitos itu telah dibantah oleh Rasulullah SAW sejak 15 abad yang lalu. Belajar itu mulai dari ayunan sampai ke liang lahad. Begitu juga dalam hal berbisnis, anda dapat memulai kapan saja saat anda mau. Walaupun memulai apapun sebaiknya seawal mungkin bukan berarti yang senior tidak bisa sukses seperti yang muda.

Menurut Dewi Kreckman (2020) usia tidak bisa menjadi alasan untuk memulai berbisnis. Coba kita cek data berikut: (1) Jan Kaum founder WhatsApp memulai di usia 35 tahun, (2) Robert Noyce mendirikan Intel di usia 41 tahun, (3) Ray Croc memulai Mc. Donald’s usia 52 tahun, (4) John Pemberton memulai Coca Cola di usia 55 tahun, (5) Harland Sanders memulai KFC di usia 65 tahun.

Lebih lanjut Dewi Kreckman (2020) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri-sendiri untuk sukses. Tidak perlu iri dengan sukses orang lain. Fokus membangun impian kita sendiri. “Kita tidak pernah terlalu muda untuk mulai bermimpi dan tidak pernah terlalu tua untuk memiliki impian baru”

10. Pebisnis tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi

Mereka yang percaya dengan mitos itu mengira bisnis itu sangat menyita waktu hingga tidak punya waktu untuk keluarga. Padahal sebenarnya menjadi pebisnis kita memiliki dua hal yang tidak dimiliki karyawan yaitu: Flexibilitas dan kontrol. Walaupun di awal mendirikan usaha kita cenderung banyak lembur tapi begitu bisnis mulai stabil dan tersistem maka kita memiliki keleluasaan mengatur jadwal dan mendelegasikan.

Mau kerja pagi/siang/sore/malam mah suka suka kita. Mau kerja seminggu trus libur seminggu juga terserah. Yang penting pekerjaan sudah kita delegasikan dengan baik. Saat orang kerja weekdays kita bisa aja liburan.

Semoga tulisan ini bisa membantu menyemangati kalian yang ingin memulai bisnis ya. See you on top!

 

Sumber Inspirasi Tulisan ini:

https://www.facebook.com/dewikreckman.usa
Memulai bisnis pertama dengan modal awal 50 ribu rupiah, pendidikan D3 BHS Inggris, bukan dari keluarga pebisnis (ayah meninggal sejak bayi dan ibu tidak lulus SMP)

BISNIS YANG MEMBEBASKAN

Praktik Bisnis yang Membebaskan dari Adzab Allah yang Pedih

Bisnis macam apakah itu? Berikut bunyi tawaran Allah tentang bisnis (perniagaan) yang terdapat dalam surat Ash-Shaff, ayat 10-11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS 61:10-11)

Sesungguhnya Allah memiliki kuasa penuh atas semua yang dimilikinya, termasuk terhadap diri kita. Apakah Allah mau menghidupkan, mematikan, melapangkan rizki atau menyempitkannya, memberi nikmat atau mengazab. Allah menawarkan bisnis yang besar lagi tidak akan mengalami kerugian dan dapat menghantarkan untuk meraih tujuan dan melenyapkan semua halangan. Suatu bisnis yang lebih baik daripada bisnis yang sekedar profit dunia, bersusah payah untuknya dan menyibukkan diri hanya dengan bisnis  dunia semata. Jika kamu mengerjakan apa yang Kuperintahkan kepadamu dan apa yang telah Kutunjukkan kepadamu, niscaya Aku akan mengampuni semua kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang penuh dengan tempat-tempat tinggal yang baik-baik serta derajat-derajat yang tinggi. Tambahan ini merupakan kebaikan dunia yang disambung dengan nikmat di hari akhirat bagi orang-orang yang taat kepada Allah, Rasul-Nya, serta menolong Allah dan agama-Nya.

Yaitu bisnis yang diniatkan untuk di jalan Allah dan menolong agama-Nya, maka Allah menjamin menolongmu dan menjadikanmu menang dan sukses bisnismu. Seperti yang disebutkan dalam ayat melalui firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7)

{وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Hajj: 40)

Berikut ini transaksi pinjam meminjam bermusyarakah yang Allah tawarkan:

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ (QS 64:17).

Berapa banyak manusia yang berhasil membukukan laba? Lebih dari 1400 tahun yang lalu, Sang Pemilik Modal Yang Maha Kaya—sekaligus Sang Hakim Maha Adil—itu telah menyebarkan bocoran informasi bahwa hampir semua “mitra bisnisnya” gagal membukukan laba. Hasil auditing terhadap neraca keuangannya menunjukkan hasil bahwa bisnis mereka membukukan kerugian. Tapi ada juga yang membukukan keuntungan dalam berbisnis dengan Allah. Siapa mereka? Simak saja bocoran di bawah ini:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (gagal membukukan laba dalam bertransaksi dengan Allah), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 1-3).

Nah bisnis apapun yang kita kembangkan dan kelola harus menjadi sarana (wasilah) untuk berdizikir, bertasbih di waktu pagi maupun petang. Kesibukan bisnisnya tidak menjadi penghalang dalam berzikir kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Sebagai entrepreneur, dia tetap istiqamah bahwa ridlo Allah adalah tujuan utamanya.

{فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (36) رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38) }

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS 24:36-38)

KONSEP KURIKULUM SIT

Satu hal yang paling perlu diperhatikan para orang tua adalah ketika memilih sekolah untuk buah hati tercinta. Tentunya para orang tua ingin si kecil bersekolah di sekolah yang berkualitas, pavorit, dan unggul dengan pengajar yang baik, kurikulum mumpuni serta nilai agama Islam yang kental. Pilihan yang tepat untuk memenuhi hal tersebut adalah Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang terdiri dari: Kelompok Bermain Islam Terpadu (KBIT), Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT), dan Sekolah Menengah Kejuruan Islam Terpadu (SMKIT) yang kini semakin diminati masyarakat.

Hal tersebut karena nilai-nilai agama Islam jadi pertimbangan utama dalam hal pendidikan anak. Pilihan sekolah SIT juga mulai banyak tersebar di berbagai wilayah. Untuk lebih mengenal konsep kurikulum SIT, ketahui detailnya.

Konsep dasar
Sekolah Islam Terpadu (SIT) berjejaring dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia (JSIT INDONESIA) yaitu sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyah sebagaimana yang diajarkan para ‘alim ulama’ . Konsep operasional SIT merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi.

Istilah “ Terpadu” dalam SIT dimaksudkan sebagai penguat (taukid) dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah, Islam yang utuh menyeluruh, dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya berupa pemahaman formal dalam lingkungan sekolah tapi mencontohkannya dalam aspek kehidupan sehari-hari.

Kurikulum tetap mengacu Kemendikbud
Dalam kurikulum dasar, SIT tetap berkiblat pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan acuan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kemudian sekolah melakukan pengembangan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar pendidikan.
Dalam aplikasinya, Sekolah Islam Terpadu menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai-nilai Islam.

Pelajaran umum, seperti matematika, IPA, IPS, bahasa, jasmani/kesehatan, keterampilan dibingkai dengan pijakan, pedoman dan panduan Islam. Sementara dalam pelajaran agama, kurikulum diperkaya dengan pendekatan konteks kekinian, kemanfaatan, dan kemaslahatan.

Implementasi
Pelajaran yang diberikan sangat lengkap. Berupa pendidikan dasar umum dan pendidikan agama. Pelajarnnya antara lain Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya, dan Penjaskes. Sementara pelajaran lainnya yang berkaitan dengan keislaman masuk dalam kategori Muatan Lokal yang terdiri dari Akidah Akhlak, Qur’an Hadis, Fiqih, Tarih, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tahfidz, Tahsin, dan komputer.

Dengan cukup padatnya pelajaran dan mengajarkan keterpaduan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka konsep SIT memang full day school. Anak-anak berada di sekolah dalam waktu yang panjang hingga sore hari.
Mereka tak hanya belajar dalam kelas, tapi juga melaksanakan solat wajib dan sunnah secara berjamaah. Saat belajar mengaji, ada guru khusus yang mengajarkannya. Bahkan bukan sekedar membaca tapi benar-benar diajarkan secara detail cara membaca yang benar sesuai tajwid, makhraj, gharib dan tahsinnya.

Anak-anak juga dilatih untuk menghafalkan Al-Quran. Nantinya ada buku laporan khusus soal seberapa banyak hafalan anak, dan menjadi nilai penting dalam sisi akademik.
Orangtua pun harus terlibat aktif dalam menyiapkan anak, membimbing serta mendampingi anak dalam menjalani tiap aktivitas sekolah. Hal ini karena sistem sekolah terpadu artinya sekolah dan orangtua juga bekerja sama dan terpadu dalam hal mendidik anak.

Sumber: Buku Standar Mutu SIT, JSIT INDONESIA.

HARTA AMUNISI PERJUANGAN FIILLAH

Buku Student Entreprise ini sebagai Panduan untuk Praktik Entrepreneurship bagi para santri

Dalam konsep sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UURI tentang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003)

Sistem pendidikan di Pesantren Wirausaha Nurul Islam ini menekankan pentingnya memahami, mengamalkan, dan menghafalkan Al-Quran yang terintegrasi dengan life skill, khususnya leadership and entrepreneurship. Ilmu ini mengajarkan tentang mental dan strategi bisnis untuk mendapatkan keuntungan financial. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, kejujuran, keberanian mengambil resiko – apapun yang terjadi pantang baginya untuk mundur apalagi menyerah. Layaknya seorang pendekar dalam memperjuangkan cita-citanya. Inilah substansi dari ilmu entrepreneursip, tidak pernah berhenti berinovasi untuk memperlebar-memperluas jaringan usahanya.

Karakter entrepreneur ini telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Nabi telah mewariskan teori terbaik, entrepreneursip. Rasulullah SAW seorang entrepreneur sukses. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio menuturkan, Rasul memiliki bisnis yang besar, jauh melintasi berbagai wilayah dan negara. Rasul memberikan keteladanan agar ummatnya kaya dan bahagia.

Bagi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, harta akan menjadi sarana mengapai kebahagiaan dan ridho Allah. Harta itulah yang akan menjadi penolong dari panasnya api neraka. Harta itulah yang menjadi penyelamat dari kerasnya azab Allah SWT. Dan, dengan harta itulah ia akan dimudahkan berjumpa dengan Allah SWT. Bagi orang sholih, harta akan ia pergunakan untuk kebaikan, ia akan bergegas membelanjakannya di jalan Allah SWT. Semakin banyak harta yang didapatkan, ia akan semakin mudah mendapatkan jalan kemudahan dan kebahagian. Mari kita simak Al Quran Surat Al-Lail ayat 6-7 Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) terbaik maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaan. Sekali lagi, harta merupakan satu diantara sarana menggapai kebahagiaan.

Menjadi seorang dengan karakter seperti ini sudah ditekuni oleh banyak orang, baik pada jaman dahulu maupun pada saat ini. Abdurahman Bin Auf adalah satu diantara contoh sukses yang menekuni bidang ini. Sukses menjadi seorang wirausahawan. Beliau menjadi kebanggaan Baginda Rasul dan termasuk satu diantara sahabat yang dijamin masuk surga. Sahabat Abdurahman Bin Auf sukses dengan keimanan, harta dan kekayaannya.

Inilah kecerdasan yang harus hadir pada generasi muda muslim saat ini. Generasi Tahfidz Preneur – Quran Preneur. Al Quran menjadi kepribadian dalam berbisnis. Al Quran menjadi sahabat dalam berikhtiar. Ibadah menjadi kegemaran dalam kesehariannya. Hidup semakin berkah dan keluarga tetap sakinah. Inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan. Kelak mereka akan bersama dengan orang-orang sholih, para syuhada, nabi dan rasul. Hanya untuk mereka, entrepreneur yang senang dengan Al Quran, bukan untuk yang lain.

Insya Allah kompetensi Tahfidz Preneur ini dapat memenuhi kerinduan umat, mewujudkan genarasi muslim penghapal Al Quran, entrepreneur, sholih, tidak merokok dan gemar beribadah. Hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, persahabatannya tidak sebatas pada kepentingan bisnis, namun karena kecintaannya kepada Allah SWT.

TAHFIDZPRENEUR

Ust. Drs. Toto S. Atho’illah, M.Pd. Mudir Pesantren Wirausaha Nurul Islam Krembung, Sidoarjo
Karakter entrepreneur ini telah dicontohkan dan dipraktikkan oleh Muhammad muda ketika beliau mulai berusia 12 – 40  tahun. Ini artinya bahwa pendidikan praktik entrepreuneurship dapat dimulai sejak usia 12 tahun atau lulus Sekolah Dasar (SD). Pendidikan keteladanan yang luar biasa, Nabi telah mewariskan teori terbaik tentang entrepreneursip. Rasulullah SAW seorang entrepreneur sukses. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio menuturkan, Rasul memiliki bisnis yang besar, jauh melintasi berbagai wilayah dan negara. Itu artinya Rasul memberikan keteladanan agar ummatnya shalih, kaya dan bahagia.

Ilmu entrepreneurship mengajarkan tentang mental dan strategi bisnis untuk mendapatkan keuntungan financial. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, kejujuran, keberanian mengambil resiko dan tantangan – apapun yang terjadi pantang baginya untuk mundur apalagi menyerah. Inilah substansi dari ilmu entrepreneursip, tidak pernah berhenti berinovasi untuk memperlebar-memperluas jaringan usahanya.

Bagi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, bisnis dan harta akan menjadi sarana mengapai kebahagiaan dan ridho Allah. Harta itulah yang akan menjadi penolong dari panasnya api neraka. Harta itulah yang menjadi penyelamat dari kerasnya azab Allah SWT. Dan, dengan harta itulah ia akan dimudahkan berjumpa dengan Allah SWT. Bagi orang sholih, harta akan ia pergunakan untuk kebaikan, ia akan bergegas membelanjakannya di jalan Allah SWT. Semakin banyak harta yang didapatkan, ia akan semakin mudah mendapatkan jalan kemudahan dan kebahagian. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surat Al-Lail ayat 6-7 “Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) terbaik maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaan”. Sekali lagi, harta merupakan satu diantara sarana menggapai kebahagiaan.

Menjadi seorang dengan karakter seperti ini sudah ditekuni oleh banyak orang, baik pada jaman dahulu maupun pada saat ini. Abdurahman Bin Auf adalah satu diantara contoh sukses yang menekuni bidang ini. Sukses menjadi seorang wirausahawan. Beliau menjadi kebanggaan Baginda Rasul dan termasuk satu diantara sahabat yang dijamin masuk surga. Sahabat Abdurahman Bin Auf sukses dengan keimanan, harta dan kekayaannya.

Pesantren Wirausaha SMPIT – SMAIT NURUL ISLAM KREMBUNG, SIDOARJO mengembangan Program Tahfidpreneur. Suatu kecerdasan dan ketrampilan yang harus hadir pada generasi muda muslim saat ini. Generasi Tahfidz Preneur – Quran Preneur. Al Quran menjadi kepribadian dalam berbisnis. Al Quran menjadi sahabat dalam berikhtiar. Ibadah menjadi kegemaran dalam kesehariannya. Hidup semakin berkah dan keluarga tetap sakinah. Inilah sumber kebahagiaan dan keberkahan. Kelak mereka akan bersama dengan orang-orang sholih, para syuhada, nabi dan rasul. Hanya untuk mereka, entrepreneur yang senang dengan Al Quran, bukan untuk yang lain.

Insya Allah kompetensi Tahfidz Preneur ini dapat memenuhi kerinduan umat, mewujudkan genarasi muslim penghapal Al Quran, entrepreneur, sholih, tidak merokok dan gemar beribadah. Hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, persahabatannya tidak sebatas pada kepentingan bisnis, namun karena kecintaannya kepada Allah SWT.